Prabumulih: Profil Kota Nanas dan Minyak Bumi di Sumatera Selatan

prabumulih

TL;DR

Prabumulih adalah kota di Provinsi Sumatera Selatan yang resmi berdiri pada 2001 setelah dimekarkan dari Kabupaten Muara Enim. Kota ini dijuluki Kota Nanas karena produksi nanasnya yang besar, sekaligus menjadi salah satu penghasil minyak bumi utama di Indonesia lewat Pertamina EP Prabumulih Field. Dengan populasi sekitar 213.000 jiwa dan PDRB per kapita Rp51,8 juta, Prabumulih termasuk salah satu daerah terkaya di Sumatera Selatan.

Sekitar 100 kilometer barat daya Palembang, ada satu kota yang ekonominya ditopang dua hal yang sama sekali berbeda: minyak bumi dan nanas. Prabumulih bukan nama yang sering muncul di daftar destinasi populer Sumatera, tapi kota ini punya peran besar dalam industri energi nasional dan punya identitas lokal yang kuat lewat julukan Kota Nanas.

Posisinya strategis di jalur penghubung Palembang, Muara Enim, dan Lahat menjadikan Prabumulih bukan sekadar kota transit, tapi juga pusat perdagangan dan jasa di wilayah Sumatera Selatan bagian tengah. Berikut profil lengkap Kota Prabumulih, mulai dari sejarah, ekonomi, hingga potensi wisatanya.

Sejarah Pembentukan Kota Prabumulih

Prabumulih awalnya merupakan bagian dari Kabupaten Muara Enim. Statusnya naik menjadi kota administratif pada 1982 berdasarkan PP Nomor 18 Tahun 1982. Pada saat itu, wilayahnya sudah menunjukkan perkembangan pesat, terutama karena aktivitas industri migas yang sudah berlangsung sejak era kolonial Belanda.

Resminya, Prabumulih menjadi kota otonom pada 21 Juni 2001 melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2001. Saat pemekaran, kota ini terdiri dari 4 kecamatan. Kemudian pada 2007, ditambah 2 kecamatan baru (Prabumulih Utara dan Prabumulih Selatan) sehingga total menjadi 6 kecamatan, 33 kelurahan, dan 12 desa seperti sekarang.

Nama “Prabumulih” sendiri punya beberapa versi asal usul. Satu versi menyebut kata Prabu berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “raja”, sementara Mulih berarti “pulang”. Versi lain mengaitkannya dengan Buah Mulih, sejenis buah yang dulu banyak tumbuh di daerah tersebut. Dalam bahasa setempat (aksara Jawi), Prabumulih diartikan sebagai “tanah yang meninggi” atau mehabung uleh.

Geografi dan Wilayah Administratif

Prabumulih terletak di koordinat 3°20’09” – 3°34’24” Lintang Selatan dan 104°07’50” – 104°19’41” Bujur Timur, dengan luas wilayah sekitar 434,46 km². Secara geografis, kota ini dikelilingi oleh Kabupaten Muara Enim, kecuali di satu sisi yang berbatasan dengan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).

Topografinya relatif datar dengan jenis tanah Podsolik Merah Kuning. Hidrologi kota ini didukung oleh Sungai Lematang, Sungai Kelekar, dan Sungai Rambang yang termasuk dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Lematang dan Musi. Iklimnya tropis basah dengan dua musim: kemarau dan penghujan, seperti umumnya wilayah di Indonesia.

Enam kecamatan yang membentuk Kota Prabumulih saat ini adalah Prabumulih Barat, Prabumulih Timur, Prabumulih Utara, Prabumulih Selatan, Cambai, dan Rambang Kapak Tengah.

Ekonomi: Minyak Bumi dan Nanas sebagai Dua Pilar Utama

Industri Migas di Prabumulih

Prabumulih adalah salah satu penghasil minyak mentah terbesar di Sumatera Selatan. Aktivitas eksplorasi migas di wilayah ini sudah dimulai sejak era kolonial Belanda, dan sampai sekarang tetap produktif. Pertamina EP (PEP) mengoperasikan Prabumulih Field dengan kapasitas produksi yang terus meningkat.

Sepanjang 2025, produksi minyak PEP Prabumulih Field mencapai 11.024 barel per hari (BOPD), melampaui target 8.347 BOPD atau setara 124,9% dari sasaran. Produksi gas juga menyentuh 118,89 MMSCFD. Pendapatan Prabumulih Field sepanjang 2025 tercatat US$366 juta, menjadikannya salah satu lapangan dengan kontribusi terbesar di lingkungan Pertamina EP.

Cluster Gunung Kemala menjadi tulang punggung peningkatan produksi ini. Sebelum pengembangan pada 2023, cluster tersebut hanya punya tiga sumur dengan produksi sekitar 50 BOPD. Setelah dikembangkan dengan metode High Res Compartment Identification, kapasitasnya naik drastis menjadi rata-rata 2.400 BOPD pada 2025.

Untuk 2026, target produksi dinaikkan menjadi 10.500 BOPD untuk minyak dan 105 MMSCFD untuk gas. Wilayah kerja PEP Zona 4 sendiri mencakup tujuh lapangan (termasuk Prabumulih, Limau, Adera, dan Pendopo) yang tersebar di dua kota dan sembilan kabupaten di Sumatera Selatan.

Nanas: Komoditas Khas dan Ikon Kota

Selain migas, nanas adalah identitas ekonomi dan budaya Prabumulih. Kota ini merupakan penghasil nanas terbesar di Sumatera Selatan, dengan kebun-kebun nanas varietas Queen membentang di berbagai kecamatan. Julukan “Kota Nanas” bahkan diwujudkan dalam bentuk Tugu Nanas yang berdiri di Jalan Jenderal Sudirman sebagai ikon kota.

Pada 2023, Wakil Menteri Pertanian meresmikan kawasan Agrowisata Budidaya Tanaman Nanas di Kelurahan Karang Jaya, Kecamatan Prabumulih Timur, dengan lahan seluas 45 hektar. Agrowisata ini dikelola oleh Kelompok Tani Karya Muda yang beranggotakan 20 petani dan mampu menghasilkan sekitar 100 ton buah nanas per bulan.

Pemanfaatan nanas di Prabumulih tidak berhenti pada buah segar. Limbah daun nanas diolah menjadi serat bernilai ekonomi tinggi yang bisa dijadikan kain tenun, pakaian, tanjak, dan tas. Produk turunan lainnya termasuk keripik nanas, wajik nanas, dan selai nanas. Nanas Prabumulih bahkan sudah diekspor ke Singapura, meskipun volume produksinya masih jauh di bawah permintaan: sekitar 100 kg per bulan dari total permintaan 2 ton per bulan.

Demografi dan Penduduk Asli Prabumulih

Menurut data BPS Kota Prabumulih, jumlah penduduk kota ini pada pertengahan 2024 tercatat sekitar 213.523 jiwa, menjadikannya kota ketiga terbesar di Sumatera Selatan setelah Palembang dan Lubuklinggau. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan penduduknya sekitar 2,3% per tahun.

Penduduk asli Prabumulih terdiri dari tiga suku utama: Suku Rambang, Suku Belide, dan Suku Lematang. Seiring waktu, kota ini juga menjadi rumah bagi suku-suku pendatang seperti Jawa, Minang, Batak, Tionghoa-Indonesia, Melayu Palembang, Ogan, dan Komering. Mayoritas penduduk (sekitar 98%) memeluk agama Islam.

Dari sisi ekonomi, PDRB per kapita Prabumulih tercatat sekitar Rp51,8 juta, menempatkannya sebagai salah satu daerah terkaya di Sumatera Selatan. Slogan kota ini, Seinggok Sepemunyian, mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat lokal.

Destinasi Wisata di Prabumulih

Prabumulih memang bukan kota wisata seperti Palembang atau Bangka, tapi ada beberapa destinasi yang layak dikunjungi, terutama bagi Anda yang sedang melintas atau singgah di Sumatera Selatan.

Kolam Biru di Desa Muara Sungai, Kecamatan Cambai, adalah mata air alami dengan warna air biru jernih. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah saat musim kemarau, karena saat hujan air cenderung keruh. Danau Bujoan di Desa Karang Bindu, Rambang Kapak Tengah, merupakan danau bekas galian tambang yang kini menjadi destinasi wisata dengan jalan menuju daratan di tengah danau. Tidak ada tiket masuk untuk kedua tempat ini.

Agrowisata Nanas di Kelurahan Karang Jaya menawarkan pengalaman petik nanas langsung dari kebun, ditambah produk olahan UMKM seperti keripik dan jus nanas. Taman Kota Prabujaya di Jalan Jenderal Ahmad Yani dan Tugu Nanas di Jalan Jenderal Sudirman menjadi titik ikonik yang sering dijadikan spot foto. Untuk wisata air, ada Caroline Island Waterboom di Jalan Raya Prabumulih-Baturaja yang menawarkan wahana seluncuran dan kolam renang.

Akses Transportasi ke Prabumulih

Prabumulih terhubung lewat jalur darat yang cukup baik. Jalan Tol Palembang-Indralaya-Prabumulih (Palindraprabu) yang merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera sudah mempersingkat waktu tempuh dari Palembang. Kota ini juga punya Stasiun Prabumulih yang menjadi titik temu jalur kereta api dari arah Tanjung Karang (Lampung) dan Lubuklinggau-Palembang, meskipun saat ini hanya dilewati empat kereta penumpang.

Sejarah perkeretaapian Prabumulih sendiri sudah lama. Jalur kereta api Prabumulih-Muara Enim sepanjang 73 km dibangun pada 1917, disusul jalur Prabumulih-Tanjung Karang sepanjang 311 km pada 1927. Pada masa itu, perkeretaapian Sumatera Selatan dikelola oleh perusahaan Zuid Sumatra Spoorwegen.

Prabumulih dalam Konteks Sumatera Selatan

Dengan kombinasi industri migas, pertanian nanas, dan posisi geografis yang strategis, Prabumulih punya karakter yang berbeda dari kota-kota lain di Sumatera Selatan. Kota ini bukan sekadar daerah penyangga Palembang, melainkan punya identitas ekonomi sendiri yang ditopang dua sektor yang sama-sama kuat.

Tantangan ke depan ada pada diversifikasi ekonomi. Ketergantungan pada migas selalu punya risiko fluktuasi harga global, sementara sektor nanas masih menghadapi keterbatasan kapasitas ekspor dan infrastruktur agrowisata yang belum sepenuhnya memadai. Meski begitu, pertumbuhan penduduk yang stabil dan konektivitas yang terus membaik menjadi modal bagi Prabumulih untuk berkembang lebih jauh.

Scroll to Top