
TL;DR
MRP adalah singkatan dari Material Requirement Planning, yaitu sistem perencanaan kebutuhan bahan baku dalam proses manufaktur. Sistem ini menghitung bahan apa saja yang dibutuhkan, dalam jumlah berapa, dan kapan harus dipesan berdasarkan jadwal produksi. MRP berbeda dari ERP yang cakupannya lebih luas mencakup seluruh operasional bisnis.
Perusahaan manufaktur yang memproduksi ratusan unit barang per hari tidak bisa mengandalkan perkiraan manual untuk mengelola stok bahan baku. Kekurangan satu komponen saja bisa menghentikan seluruh lini produksi. Di sinilah MRP berperan. MRP adalah singkatan dari Material Requirement Planning, sebuah sistem yang membantu perusahaan menghitung kebutuhan material secara akurat dan tepat waktu.
Apa Itu MRP?
MRP (Material Requirement Planning) adalah sistem informasi berbasis komputer yang menerjemahkan jadwal produksi induk menjadi daftar kebutuhan bahan baku, komponen, dan sub-rakitan. Menurut NetSuite, sistem ini bekerja mundur dari rencana produksi barang jadi untuk menentukan bahan apa yang perlu dipesan dan kapan pemesanan harus dilakukan.
Konsep MRP pertama kali dikembangkan pada tahun 1960-an dan menjadi standar industri manufaktur sejak saat itu. Sebelum MRP ada, perusahaan mengandalkan metode reorder point yang hanya memesan bahan baku ketika stok menyentuh batas minimum. Masalahnya, metode ini tidak memperhitungkan jadwal produksi sehingga sering terjadi kekurangan atau kelebihan stok.
Tiga Input Utama Sistem MRP
Sistem MRP membutuhkan tiga data pokok untuk bisa bekerja. Tanpa salah satu dari ketiganya, hasil perhitungan tidak akan akurat.
Master Production Schedule (MPS)
MPS adalah jadwal yang menentukan produk apa yang akan diproduksi, dalam jumlah berapa, dan kapan harus selesai. Jadwal ini menjadi acuan utama seluruh perhitungan MRP. Jika MPS menyebutkan 1.000 unit kursi harus selesai minggu depan, maka MRP akan menghitung seluruh bahan baku yang diperlukan untuk 1.000 kursi tersebut.
Bill of Materials (BOM)
BOM adalah daftar lengkap semua komponen, sub-rakitan, dan bahan baku yang diperlukan untuk membuat satu unit produk jadi. BOM juga mencantumkan jumlah masing-masing komponen. Untuk satu kursi, misalnya, BOM bisa mencakup 4 kaki kayu, 1 dudukan, 8 baut, dan 1 bantalan.
Inventory Status File
Data ini mencatat stok bahan baku yang sudah tersedia di gudang, termasuk pesanan yang sudah dikirim supplier tapi belum tiba. Dengan data ini, MRP bisa menghitung kebutuhan bersih, yaitu selisih antara total kebutuhan dan stok yang sudah ada.
Baca juga: Nota Itu Apa? Peran Praktisnya dalam Bisnis Sehari-hari
Cara Kerja MRP dalam Proses Produksi
Proses kerja MRP bisa disederhanakan menjadi empat tahap utama:
- Netting: menghitung kebutuhan bersih dengan mengurangi stok yang ada dari total kebutuhan kotor
- Lot sizing: menentukan jumlah pesanan optimal untuk setiap komponen berdasarkan kebutuhan bersih
- Offsetting: menentukan waktu pemesanan dengan memperhitungkan lead time dari supplier
- Explosion: memecah kebutuhan produk jadi menjadi kebutuhan setiap komponen berdasarkan BOM
Menurut Ilmu Manajemen Industri, tahap offsetting adalah yang paling krusial karena di sinilah waktu tunggu dari supplier benar-benar diperhitungkan. Jika lead time untuk pengiriman baut adalah 5 hari kerja, maka pemesanan harus dilakukan 5 hari sebelum baut tersebut dibutuhkan di lini produksi.
Manfaat Penerapan MRP bagi Perusahaan
Perusahaan yang menerapkan MRP dengan baik akan merasakan dampak langsung pada efisiensi operasional. Berikut beberapa manfaat utamanya:
- Mengurangi kelebihan stok: bahan baku dipesan sesuai kebutuhan, bukan berdasarkan perkiraan
- Mencegah kekurangan material: jadwal pemesanan sudah dihitung mundur dari jadwal produksi
- Menekan biaya penyimpanan: gudang tidak perlu menampung bahan baku berlebihan
- Meningkatkan ketepatan waktu produksi: setiap komponen tersedia saat dibutuhkan
Bagi perusahaan manufaktur skala menengah ke atas, penerapan MRP bukan lagi pilihan melainkan kebutuhan. Tanpa sistem ini, koordinasi antara bagian pembelian, gudang, dan produksi akan sangat bergantung pada komunikasi manual yang rentan kesalahan.
Perbedaan MRP dan ERP
Banyak orang mencampuradukkan MRP dengan ERP (Enterprise Resource Planning). Menurut Mekari, keduanya memang berkaitan, tetapi cakupannya berbeda.
| Aspek | MRP | ERP |
|---|---|---|
| Cakupan | Perencanaan kebutuhan material | Seluruh operasional bisnis |
| Fokus | Produksi dan inventaris | Keuangan, SDM, penjualan, produksi |
| Integrasi | Berdiri sendiri atau modul dalam ERP | Terintegrasi dengan banyak modul |
| Pengguna | Tim produksi dan gudang | Seluruh departemen perusahaan |
Sederhananya, MRP adalah bagian dari ERP. Perusahaan kecil yang hanya butuh perencanaan material bisa menggunakan MRP saja. Perusahaan yang butuh integrasi lebih luas, dari keuangan hingga SDM, memerlukan ERP yang di dalamnya sudah mencakup fungsi MRP.
Kapan Perusahaan Perlu Menerapkan MRP?
Tidak semua bisnis membutuhkan MRP. Sistem ini paling tepat untuk perusahaan yang memproduksi barang dari beberapa komponen berbeda, memiliki jadwal produksi yang teratur, dan mengelola puluhan hingga ratusan jenis bahan baku.
Jika perusahaan Anda masih berskala kecil dengan produk sederhana, spreadsheet mungkin masih cukup. Tapi begitu produk mulai kompleks dan volume produksi meningkat, MRP menjadi investasi yang sepadan. Banyak solusi MRP berbasis cloud yang sekarang tersedia dengan biaya berlangganan bulanan, sehingga tidak perlu investasi besar di awal.
MRP adalah singkatan dari Material Requirement Planning yang sudah menjadi tulang punggung perencanaan produksi di industri manufaktur selama lebih dari enam dekade. Memahami cara kerja dan komponen utamanya membantu Anda menilai apakah bisnis Anda sudah membutuhkan sistem ini atau belum.
FAQ
Apa kepanjangan MRP?
MRP adalah singkatan dari Material Requirement Planning, yaitu sistem perencanaan kebutuhan bahan baku untuk proses produksi. Sistem ini menghitung bahan apa yang dibutuhkan, berapa jumlahnya, dan kapan harus dipesan.
Apa perbedaan utama antara MRP dan ERP?
MRP hanya fokus pada perencanaan kebutuhan material dan penjadwalan produksi, sementara ERP mencakup seluruh operasional bisnis termasuk keuangan, SDM, dan penjualan. MRP bisa berdiri sendiri atau menjadi salah satu modul di dalam sistem ERP.
Apakah MRP hanya untuk perusahaan besar?
Tidak. MRP cocok untuk perusahaan mana pun yang memproduksi barang dari beberapa komponen berbeda dan memiliki jadwal produksi teratur. Saat ini sudah tersedia solusi MRP berbasis cloud yang terjangkau untuk usaha skala menengah.
Apa saja input utama yang dibutuhkan sistem MRP?
Sistem MRP membutuhkan tiga input utama: Master Production Schedule (jadwal produksi), Bill of Materials (daftar komponen produk), dan Inventory Status File (data stok gudang). Ketiga data ini harus akurat agar hasil perhitungan MRP bisa diandalkan.

